
Pagi hari, seperti biasa Abi hanya duduk termenung di teras warung mpok tuti yang masih tutup. Hilir-mudik orang-orang yang bergegas menjemput aktivitasnya terasa menjadi suatu hal yang tidak asing lagi buatnya.
“Hey, bengong aja sih lu, tar kesambet lagi !” teriak mpok tuti yang hendak ke pasar membuyarkan imajinasi abi yang sedang mengembara. “ah, mpok ngagetin aja, lagi asik nih..!” ketus abi kesel.
“Eh, bi. Ini tuh mumpung lagi jam sewa tar keburu siang, sewa dikit lu ga dapet duit nangis deh ngrengek-rengek ngutang nasi lagi. Yang kemarin tuh bayar dulu biar ga numpuk tabungan utang lu disini !”
Celoteh khas dari mpok tuti yang terkenal cerewet dan bawel tapi sebenarnya dia sangat baik hati sama anak-anak jalanan semacam abi, serta dia jugalah yang berperan sebagai pengganti orang tua untuk mereka para anak-anak terlantar yang tak pernah merasakan kasih sayang sebuah keluarga yang utuh.
Jreng jreng jreng…suara gitar abi yang selalu setia menemaninya mulai terdengar asik bergema diantara deru bus kota. “Oke, demikianlah satu buah tembang lagu dari kami semoga bisa mnghibur anda semua, ikhlas dari anda kami ucapkan banyak terima kasih dan wassalam…” celetuk abi mengakhiri lagu yang di bawakannya, seraya meminta sedikit dari mata uang kecil seikhlasnya dari para penumpang.
“Asiik, ternyata hari ini lagi rame nih, sampai-sampai kantong gue ga muat “ gumam abi seraya menghitung hasil akhirnya. “ Hai, abi lagi banyak duit nih ceritanya, bagi dua ribu dong buat tambahan minum, kurang neh…!” kata supri yang tiba-tiba datang.
Selalu begitu kalau sudah selesai ngamen semua anak-anak yang disitu harus mau memberi uang tambahan buat mabuk-mabukan geng supri dan kawan-kawannya. Yah.., tak mengapalah Cuma dua ribu doang kok, dari pada harus berurusan dengan mereka yang notabene pasti bengap. Begitu pikir anak-anak.
“Bang, bang abi bangun dah siang tau..!” katanya mau ngamen bareng, ayoo…!” teriak dimas adik angkat di jalanan abi, seraya mendorong tubuh abi berulang-ulang agar mau terbangun.
Selama ini para anak-anak jalanan itu selalu tidur dikolong jembatan dengan alas seadanya. Tak heran apabila bangun dari tidur pasti banyak debu dan kotoran yang menempel. “Hahaha..” dimas tertawa.
“Kenapa, lu..? tanya abi heran. “Hahaha enggak, enggak kenapa-napa kok. Cuma lucu aja, hahaha…” tawa dimas semakin menjadi. “Eh, lu udah gila ya, kenapa sih?!” abi semakin penasaran di buatnya.
“Hahaha, sejak kapan lu jadi lutung kesiangan begini, bang?” ledek dimas membuat abi sadar akan dirinya yang telah berlumuran debu dan kotoran, dan akhirnya dia pun ikut tertawa. “mandi yuk” ajak abi.
“Eit, gue udah mandi dong” kata dimas, ya udah lo tunggu disini deh, w mandi dulu” kata abi seraya pergi menuju WC umum pasar yang tak jauh dari kolong tempat tinggal abi CS. Biasanya para anak kolong itu memang memanfaatkan lingkungan sekitar untuk menikmati hidup dengan lebih leluasa, indah, dan bebas.
“Udah nih, berangkat yuk” ajak abi seusai mandi. “Beh, untung gue ngga mati kelaperan Cuma gara-gara nungguin lu mandi, bang..!” ketus dimas yang memang sedari tadi menahan lapar. “Eh, kayak lu enggak lama aja kalo mandi, itung–itung kan gantian, wekk!!!” ledek abi.
“Jadi balas dendam nih ceritanya?” sindir dimas. “Ya udah kita impas deh.
Dah yuk kita langsung jalan aja tar keburu ujan, tuh kan udah mendung” kata abi seraya bergegas “yo’i, cabuuut..” timpal dimas sembari mengambil gendang kecil senjatanya.
Siang yang cerah perlahan meredup oleh deretan awan yang kian menebal. “Duar..!” suara petir mulai terdengar seolah-olah adalah genderang perang tanda pasukan air mulai menyerbu. Dan dalam sekejap saja para para pasukan air itu telah membuat kuyup dua orang pengamen, abi dan dimas.
“ Tuh kan, bang aturan kita tadi ngga usah mandi dulu, biar ga mandi dua kali kaya gene” gerutu dimas “ lu salah, harusnya kita tadi bawa sabun, kalo udah basah gini ya tinggal di sabunin aja. Jadi bersih terus deh kita” timpal abi. “Kita....?? lu aja kali sama monyet“ sahut dimas.
“Lu monyetnya, ya?” balas abi. “Enak aja, lu tuh biangnya monyet “sergah dimas ga mau kalah. “Oke, ya udah sekarang sesama monyet ga usah berantem deh mending kita hitung tuh air hujan dari pada nganggur “kilah abi. “Sampai kepala lu ubanan juga ga bakal bisa bener ngitungnya…” jawab dimas.
Di tengah keasyikan mereka bersenda gurau di bawah atap sebuah counter HP, terdengar suara yang mengagetkan dari sebuah perempatan jalan didepan sana. Ternyata ternyata sebuah truk yang bermuatan besar telah menabrak sebuah mobil sedan dengan tiga orang penumpang di dalamnya.Tak peduli hujan, banyak orang yang berlarian untuk menolong mereka ataupun hanya sekedar basa-basi menjadi sosok pahlawan penolong. Disana telah ada abi dengan susah payah mencoba mengeluarkan korban dari dalam mobil yang disambut beberapa orang di belakangnya, sementara dimas pergi ke telepon umum untuk menghubungi mobil ambulance.
“Aduh gimana nih korban ga ada yang bergerak” celetuk salah seorang dari mereka. “Kita lapor polisi aja terus kita bawa deh ke rumah sakit“ kata abi menimpali. “Ya, betul ! cepat cari taksi !” kata yang lainnya menyetujui usul abi.
Belum lama mereka berdiskusi datanglah mobil patroli polisi dan beberapa mobil ambulance. “selamat siang, pak! Kami harap ada beberapa orang ikut bersama kami ntuk dimintai keterangan“ ucap salah seorang polisi. Akhirnya mereka menyuruh abi untuk ikut karena sebagian mereka enggan dimintai keterangan.
Sore itu abi pulang dengan langkah gontai sambil mengingat kejadian siang tadi, tepat di depan kolong abi melihat dimas sedang asyik dengan sesuatu. “Apaan tuh?“ tanya abi penasaran. “Nich bang, tadi waktu kecelakaan gue dapat harta karun banyak banget untung kagak ada yang ngeliat“ kata dimas sambil menunjukkan sesuatu.
Ternyata memang barang-barang berharga berupa laptop, telepon genggam, dan sebuah tas yang berisi perhiasan serta beberapa lembar uang.
“Wah, hari ini kita bakal pesta besar nih, bang“ celetuk dimas. “Nggak…!” kata abi seraya berdiri. “Kita boleh hidup di jalan, gembel, dekil, dan gak punya uang. Tapi bukan berarti kita harus sembarangan memilih rejeki“ kata abi mengingatkan. “Ahh.., jangan sok suci gitu deh !” ketus dimas tidak setuju.
“Bukannya gitu, kita harus bisa menyadari bahwa barang-barang itu bukan hak milik kita dan harus kita kembalikan kepada pemiliknya sekarang juga“ nasehat abi memberi tahu dimas.
“Ah, gue ga peduli yang begituan, yang penting hari ini gue mau pesta besar, toh gue ngedapetin ini semua dengan susah payah, kalo emang lu ngga mau ikut ya udah, biar gue sama anak-anak aja. Yang jelas gue ngga bakal balikin barang-barang ini !” sergah dimas ketus sambil membereskan barang-barang hasil rarnpasannya dan bergegas pergi.“ Terserah lu, dah gue ga ikut !” balas abi kesal.
Malam hari yang melelahkan buat abi, sebab hari ini dia tidak mendapatkan uang lebih, yang ada hanya kembali menikmati malam dengan perut kosong. Sayup-sayup di seberang jalan dekat kolong tampat abi berdiam, suara dimas dan teman-temannya sedang asyik berpesta menikmati hasil rampasan yang telah di tukar dengan makanan dan minuman yang gak jelas rasanya. Yah, namanya juga jalanan.
Tidak pernah ada yang namanya haram atau halal, yang penting perut kenyang dan selalu senang sudah menjadi sebuah adat yang telah mengakar secara turun-temurun. Apalagi di tengah kondisi ekonomi negara yang tak kunjung membaik seperti ini, membuat para sebagian masyarakat untuk bertingkah liar dan menghalalkan segala cara.
Berbeda dengan abi, dia adalah mahasiswa dari sebuah universitas swasta di jakarta yang mencoba mencari jati dirinya dengan menyandang status ‘gembel kolong’ dan tak seorang pun tahu tentang siapa dirinya, tak terkecuali dimas.
Abi sendiri sengaja merahasiakan tentang keadaan dirinya yang sebenarnya, sebab menurut pandangannya bahwa semua makhluk di bumi ini punya keistimewaan yang tersembunyi di antara hal-hal yang nampak jelas terlihat. Dan abi pun menyadari akan betapa sulitnya beradaptasi dengan sebuah komunitas yang disebut ‘komunitas rimba‘ tersebut.
Tapi bagi abi yang selama ini menggeluti dunia seni dan berbasic di jurusan sastra budaya, jadi merupakan sebuah tantangan yang seru untuk menjadi sumber inspirasinya dalam berkarya.
Di dalam komunitas barunya itupun abi dikenal sebagai pengamen yang ramah, rajin beribadah, dan mempunyai skill lebih di bidang musik sehingga tak jarang abi terlihat menjadi seorang pembimbing musik di kalangan pengamen tersebut.
Cita-cita abi adalah mendirikan sebuah sanggar seni untuk kalangan anak-anak jalanan, dan menjadikan mereka sebagai seorang seniman yang berbudi pekerti baik. Sehingga pandangan masyarakat yang selalu miring tentang mereka menjadi berubah dan mulai bersimpati. Namun, sayangnya hal itu membutuhkan modal besar dan waktu yang sangat lama.
“Bang abi, bangun, bangun…!” teriak ucok membangunkan abi. “Uuh.., ada apa sih ganggu aja“ balas abi malas. “Gawat bang, gawat…, dimas kena razia !” ucok kembali berteriak sambil menarik tangan abi, “hah, serius lu ..! terus dimana yang lainnya ?!" tanya abi gusar.
“Yang lainnya ikut kena juga, bang. Tadi ucok lagi pergi ke toilet jadi gak kena deh, pas balik lagi ucok ngeliat mereka langsung diringkus tanpa perlawanan, soalnya lagi pada mabuk berat “ papar ucok. “ Terus gimana dong, bang! jangan diem aja…!” sambungnya.
"Ya udah tenang aja dulu, besok pagi kita kesana berdua ya, ngga usah panik. Mereka aman kok” sahut abi menenangkan.
Dalam hatinya sebenarnya abi juga bingung, apa yang harus dia lakukan, sementara ucok hanya bisa terdiam membayangkan seandainya dia tadi ikut tertangkap satpol P.P yang tadi menangkap teman-temannya.
“Hiiih, serem juga ya bang kalo ketangkep kamtib, pasti kita bakal jadi sasaran tinju“ kata ucok bergidik. Abi hanya bisa tersenyum simpul mengiyakan. “sana tidur dulu, besok pagi temenin abang ke tempat pak RW, yah.” pinta abi. Ucok hanya mengangguk dan mulai merapikan kardus-kardus yang berserakan untuk alas tidurnya. Hening…, hingga akhirnya mereka lelap dalam buaian mimpi masing-masing.
“Assalamualaikum…” seru abi yang kala itu di temani mpok tuti dan ucok mengunjungi rumah pak RW. Selama ini mpok tuti selalu merasa bertanggung jawab atas anak-anak apabila terjadi sesuatu dengan mereka. “wa’alaikum salam..” sesaat terdengar sahutan dari dalam membalas salam abi , dan seketika muncul seorang wanita setengah baya menyambut mereka.
“Eh, mpok tuti. Ada apa nih tumben pagi-pagi udah datang ?” kata wanita itu yang langsung mengenali wajah tamunya yang memang warga kampung tersebut. “Mari, silahkan duduk” kata wanita itu mempersilahkan tamunya untuk duduk.
“Iya, terima kasih” jawab mereka serempak. “Oya, mau minum apa nih?" Tanya wanita itu. "Aduh ngga usah repot-repot, mba kita udah pada minum banyak kok tadi di rumah, ngomong-ngomong mas suryonya mana?” kata mpok tuti yang memang sudah akrab dengan keluarga ketua RW tersebut.
"Oh, tunggu sebentar ya biar saya panggil suami saya “ kata wanita itu yang ternyata istri dari pak RW.
“Assalammualaikum, udah lama pada disini? ada perlu apa?” kata pak RW yang langsung bertanya ramah.
Akhirnya abipun menjelaskan maksud kedatangannya, mulai dari peristiwa kecelakaan, terus ulah dimas yang mengambil barang-barang berharga milik korban, hingga akhir pesta dimas yang berujung dengan tertangkapnya mereka oleh petugas kamtib. Dan abipun memohon bantuan dari pak RW agar mau membantu terlepasnya anak-anak itu dari tahanan.
“Memang sebenarnya selama ini saya merasa prihatin dengan tingkah laku mereka yang sudah terlajur bebas dengan tanpa aturan” kata pak RW yang ternyata sering memperhatikan kehidupan para komunitas jalanan.
“Iya, pak. Saya faham dengan perkataan bapak. Sebenarnya saya juga punya sebuah keinginan yang mana saya tidak bisa untuk harus bekerja sendiri..” kata abi yang belum berani melanjutkan kata-katanya.
“Keinginan seperti apa itu, nak abi?” tanya pak RW penasaran. “Selama ini saya sengaja merahasiakan diri, bahwa sebenarnya saya adalah mahasiswa dari fakultas sastra yang mencoba meneliti dan ingin memberi pengarahan serta beberapa pendidikan seni dan agama agar pola fikir anak-anak jalanan tidak cukup hanya dengan makan kenyang lalu tidur."
"Karena kalau saya lihat, anak-anak jalanan itu sebenarnya mempunyai sisi kreativitas yang tinggi. Cuma karena mereka merasa bahwa dirinya adalah sampah, jadi mereka bertindak semaunya dan malas untuk mengasah otak” jelas abi. “Lalu…?” tanya pak RW yang mulai antusias mendengar penjelasan abi.
"Jadi saya berencana untuk mendirikan sebuah sanggar yang menampung dan mengelola anak-anak jalanan tersebut. Tapi sayang semua itu butuh modal besar dan saya tidak bisa bergerak sendiri mengenai hal ini. Saya harap bapak sebagai kepala rukun warga disini sudi memberi perhatian akan hal-hal yang telah saya jelaskan sebelumnya.”Kata abi mengakhiri penjelasannya.
“Ha…ha…ha…saya bangga dengan niat nak abi yang tulus mencoba merubah nasib anak-anak jalanan itu, saya sangat setuju sekali dengan rencana ini, terus apa rencana selanjutnya dari nak abi?” tanya pak RW. Langkah awal yang harus di lakukan adalah pengumpulan dana.
"Sementara ini saya punya dana sekitar sepuluh juta dari tabungan saya yang memang sudah saya persiapkan sebelumnya, dan apabila pak RW berkenan saya harap bapak sudi untuk menyumbangkan beberapa kekurangannya” papar abi.
“Baiklah nak abi, nanti saya akan mempersiapkan lahan dan segala keperluannya semuanya biarlah bapak yang mengurusnya serta membicarakannya dengan pihak DEPDIKNAS & pihak dinas sosial. Untuk saat ini, mari kita jemput anak-anak dulu agar mereka bisa bebas, kalian tunggu disini dulu ya -bapak mandi dulu.” Kata pak RW yang langsung pergi meninggalkan mereka.
“Eh, bi ! ternyata lu mahasiswa toh? mpok ngga nyangka, salut deh buat lu..” celetuk mpok tuti yang memang dari tadi ga ada suaranya. “Iye, bang. Gue juga ga nyangka kalo bang abi itu mahasiswa. Kok ga ngomong aja dari dulu, bang?” kata ucok ikut komentar. “Hush! Ga usah di bahas ah, ga penting. Eh, ngomong-ngomong sekarang jam berapa sih? Kata abi mengalihkan pembicaraan. “Udah jam setengah dua belas kurang nih, bang. Mang kenapa?” jawab ucok. “Kirain udah sore, kok ga ada matahari, ya?”
“Iya, soalnya diluar lagi mendung. Mungkin sebentar lagi hujan.” Jawab ucok.
Dan akhirnya apa yang menjadi cita-cita abi selama ini telah terwujud, setelah melewati beberapa kendala dan halangan dari sebagian warga setempat yang menganggap bahwa pendirian sanggar seni hanya akan mengganggu saja. Tapi semua itu bisa di selesaikan dengan keputusan mufakat yang telah di musyawarahkan.
Waktu terus berjalan, hari berganti minggu, minggu berganti bulan, hingga tahun pun berlalu. Sebuah bangunan bernama ‘Wadah Apresiasi Seni Anak Jalanan’ semakin membuahkan berbagai prestasi yang bisa di banggakan. Hingga akhirnya, dalam jangka waktu satu setengah tahun saja sanggar tersebut telah menjadi buah bibir di beberapa media, karena prestasi dari karya-karya anak-anak jalanan yang mulai mampu berdikari mandiri, dan seringnya tampil dalam acara-acara talk show di beberapa media audio maupun visual.
Secara real bisa di tela’ah bahwa, sebagai bagian dari anak bangsa, mereka adalah sosok kreator ulung yang tersembunyi. Mereka hanya butuh untuk diperhatikan secara menyeluruh sebagai manusia yang juga punya daya imajinasi dan kreativitas yang tak kalah dengan mereka yang berlatar belakang uang dan formalitas.
Mereka liar, tapi hati mereka jujur, polos, dan penuh pemberontakan akan hal-hal yang positif. Apa yang menjadi pola fikir abi merupakan satu tindakan heroes yang bernilai fiktif untuk era dimana zaman dan penghuninya dikuasai oleh egoisme, rasisme, dan diskriminasi mutlak seperti saat ini. Apabila ada…,
Yaaah, mungkin hanya sebuah formalitas belaka.
16 – sept – 08,
Reynur rachmat malik
