Nongkrong sejenak di pinggir jalan yang sesak dengan kemelut kendaraan yang tak kunjung punah. Disini aku ditemani dua bocah pengamen berumur kurang lebih 12-13 tahunan. Kusapa mereka melepas kekakuan diantara kami.
"Hai, cuy, udah mulai main gitar gede nih sekarang." kataku yang memang dulu sering melihat dia mengamen hanya menggunakn 'kecrekan' ataupun sekedar tepuk tangan saja. Tapi kini dia sudah mulai ada perkembangan dengan gitar besar yang bahkan melebihi ukuran tubuhnya yang gendut namun pendek. Hehehe lucu juga sih.
"Iye, bang. Ini saya dapet pinjeman gitar dari abang-abang tetangga saya." jawabnya sambil menatapku.
"wah, mantap. Trus, tadi nyanyi apa aja di bis?" tanyaku
"bawain lagunya last child, bang." jawabnya
"yang mana tuh? lanjutku penasaran
"yang diary depresiku. Coba deh sini pinjem gitarnya biar saya nyanyiin lagunya." katanya seraya meraih lenganku yang memang sedari tadi membawa gitar.
"Jreng...."
......
Malam ini hujan turun lagi
bersama kenangan yang mungkin luka dihati.
Luka yang harusnya dapat terobati
yang kuharap tiada pernah terjadi.
Teringat saat ayah pergi
dan kami mulai kelaparan.
Hal yang biasa buat aku hidup dijalanan...
Sejenak dia menghentikan nyanyiannya...
"kok berhenti?" tanyaku heran
"gitar abang keras banget senarnya, jadi sakit tangan saya.." katanya polos
"owh, hehehe..." aku tertawa geli mendengarnya. Memang gitar yang kubawa adalah gitar tua yang sudah lumayan rusak dan kurang terawat.
Hmm... kalau aku perhatikan bocah ini, tampak seperti sosok anak yang ambisius dan sensitif, sehingga aku harus berhati-hati menjaga lidahku agar tidak membuatnya tersinggung. Tubuhnya gemuk, rambut ikal panjang, dan yang membuatku kasihan adalah, anak ini menggunakan kaca mata minus 12 serta tangkai sebelah kanan patah dan hanya menggunakan karet gelang yang diikat ke telinganya.
"Lo masih sekolah, cuy?" tanyaku
"saya berhenti sekolah, bang"
"kenapa?"
"gurunya rese!" katanya geram
"lhoh.., rese kenapa tuh?"
"setiap kali saya bayar uang sekolah, saya selalu ditagih lagi, katanya saya belum bayar. Padahal sudah ada bukti pembayarannya..."katanya gugup sehingga membuatku agak sedikit curiga.
Entah ada rasa tidak percaya dalam diriku mendengar penjelasannya, ingin rasanya aku mengorek lebih jauh mengenai penyebab dia putus sekolah. Namun sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu dan sekaligus aku tak mau menyinggung perasaannya, toh tujuanku kan bukan seperti wartawan investigasi yang mengutamakan info secara detail.
"Tar klo udah gede lo nyesel loh" kataku
"enggak, bang. Saya sekarang ikut kejar paket" jawabnya
"ohh, emang suatu saat lo mau ngapain?" tanyaku lagi
"cita-cita saya kepengen banget jadi pemain band, bang...!" jawabnya antusias membuatku berubah fikiran.
Aku mulai agak teratarik dengan jawabannya itu. Memang talenta itu bisa aku lihat dari awal bertemu dengannya yang notabene adalah bocah pengamen dekil yang tak terawat hingga menjadi saat ini yang tampak sangat berbeda sekali. Dan ketika aku memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar dunia musik, terlihat sekali rona semangat dalam pancaran wajahnya.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan larut pun mulai menampar kesadaranku untuk segera pulang. Bocah itu telah pulang dan aku hanya bisa terangguk mengiyakan sembari menatap kepergiannya. Semoga apa yang menjadi mimpi anak itu akan terwujud nantinya.
Dunia jalanan hanya akan terus lusuh dan kusam jika tanpa pupuk kreativitas positif serta mimpi-mimpi indah. Sosok anak dalam cerita ini adalah satu dari sekian banyak kreator jalanan yang punya antusiasme untuk bisa lebih berpotensi dan maju di masa depannya. Sedangkan sukses or tidaknya hanyalah tergantung seberapa keras pribadi masing-masing dalam mencapainya. "Good luck my little brother...!!!"
Reynur Rachmat Malik
