Thursday, April 22, 2010

Topeng



Didalam sebuah ruang yang di beri nama dunia adalah sebuah panggung teatrikal antara real dan abstrak. Dimana didalamnya terdapat berbagai muatan kisah dan cerita yang telah terskenario dan di kemas secara apik bertema seputar perjalanan hidup seluruh makhluk.
Ketika kaki mulai berpijak, adalah aku sebagi subyek dalam cerita ini merangkak, berjalan hingga akhirnya berlari menuju sebuah titik yang menjadi obyek ending perjalanan seorang insan.
Ku buka mata kutatap dunia kuhirup udara dan kuhembuskan nafas yang kotor, aku sadar ternyata aku telah hadir dan menjadi besar untuk melangkah.

"Hai, ternyata aku berada di tengah-tengah modernitas yang glamour. Lihatlah…binatang itu menamakan dirinya sebagai moralitas yang suci, hah! Jengah aku melihatnya dan aku berlanjut untuk berjalan. Ha…ha…ha…di depan sana kulihat makhluk yang sangat hina dengan lidah terjulur menjilat derajat. Aku muak dengan apa yang banyak kulihat dalam setiap jengkal langkahku, kemunafikan dan permainan topeng yang nyaris menyerupai aslinya. Dimana mereka, malaikat-malaikat itu….?"
Terdengar sayup diatas sana sang malaikat bergumam, ”aku merasa malu akan jasad yang serupa denganku sedangkan hatinya sangat jauh dari apa yang dinamakan dengan transendensi spiritual kepada tuhan semesta alam. Dan mereka…, mengatas namakan pilosophy existensi kerasulan untuk mencari massa, mangsa, dan pengakuan akan derajat yang terhormat. Mulut mereka berliur dalil yang penuh racun yang memikat, dan mereka itu adalah topeng…..”

Aku adalah sebagian dari realitas yang terasing dan terlempar oleh dogma-dogma ketidak pastian ocehan, yang muluk dan menggiurkan namun tak pernah ada dan terjangkau. Aku adalah kalimat dari hati yang terhimpit, pedih…dan nyaris mati.

Dan tiba saatnya sang surya gagah perkasa memeras paksa keringatku untuk mengucur deras dan mempertemukan aku dengan beringin tua yang bijaksana. “ Apa yang mendatangkan engkau wahai insan datang di kediamanku yang agung?” sapa sang beringin menyambutku penuh tanya. “ Aku lelah kakek, izinkan aku untuk berdiam sejenak di tubuh megahmu “ kataku. “ Apa yang kau rasakan wahai insan ? “ tanya sang beringin.
“Aku merasakan sebuah ruang yang aku pijak telah bosan dengan kepalsuan, dan mendekati sebuah ultim yang menakutkan “ jawabku.

“Hahaha wahai insan cucuku, aku sudah begitu tua dan lelah mendengar kabar seperti itu. Mereka, sang bayu selalu memberi tahu tentang pedih, tangis, dan gelak tawa yang tamak dari tahun yang berganti abad.
Seiring bergulirnya waktu, dia selalu membawa berita untukku. Ini semua memang telah terskenario dalam sebuah garis sang penguasa semesta, sebelum masa ultim ruang ini terjadi, maka segala buruk dan segala cela merupakan pembuka untuk awal dari sebuah ultim itu. “ kata sang beringin mendetail.

Terik pun telah condong, dan sang bayu mulai mengelus ragaku dengan lembut hingga tak terasa aku lelap di pangkuan sang beringin yang bijak. Sayup…, diantara senyap mimpiku berimajinasi, terngiang tembang diantara lorong alam tanpa batas………….
……………
……………
“Sendu, itu kelabu
Pilu itu, syahdu di dalam kalbu
Wahai biru, pejamkan matamu…
Tutup…
Tutuplah Semua pintu ragamu.
Tapi…
Biarkanlah satu…
jangan pernah kau tutup…
…………
…………
Nuranimu…
…………
Biarkanlah satu…
Nuranimu…
Jangan pernah kau tutup…”

Aku tersenyum, tersenyum penuh makna dan aku menikmati tembang sejuk itu. Perlahan… setiap kata kusimpan dalam sugesti dan kuratakan di setiap inci darahku hingga mengaliri jiwa, raga, dan bathinku untuk bisa ku tela’ah dalam sebuah arti tanpa batas. Apa dan mengapa semua ini menjadi hal yang awam bagi mereka, akankah sebuah naluri itu telah terinjak oleh logam-logam canggih yang memaksa mereka tumbuh meninggalkan adat alam yang harmonis. Mereka pandai untuk sebuah kebodohan dan akan lebur karenanya. Dan seketika hal itu menjadi ramai serta lumrah untuk saling membanggakan, iri, benci, lalu perang…, hasutan, bujukan, rayuan, lalu…,hilang tanpa ikatan. Puas…?

“Wahai insan cucuku, bangunlah dan lihatlah langit tak lagi terang sang surya pun telah begitu lelah untuk menanti bergulirnya waktu untuknya beristirahat. Apakah kau akan selalu menutup matamu wahai insan cucuku? Bangunlah..!" seru sang beringin menggugah alam bawah sadarku untuk kembali melanjutkan perjalanankku.
“Iya kakek, aku telah mendapat ilham dalam tidurku dan aku akan kembali melangkah untuk meniti sebuah pencarian yang tak juga aku mengerti dan aku juga berharap ada jawaban pasti untuk hal ini. Selamat petang wahai kakek…” akupun kembali beranjak dan melanjutkan kembali sebuah petualangan tanpa ujung di sela alam yang mulai beranjak gelap.

Malam telah datang dengan berbagai pemandangan yang elok, pohon-pohon berakar beton, deru jangkrik melesat cepat berlalu-lalang, dan para dedemit bergentayangan mencari rekan. Bintang-bintang malam yang menyilaukan menerangi langkahku. Ku coba sejenak untuk duduk dan kucoba untuk mengerti dengan apa yang aku lihat di sekelilingku.

Aku mengerti bahwa kini aku berada di tengah belantara komersialisme yang rasis serta narsis, yang angkuh karena berbasic ada dan punya. Sementara mereka yang berbasic lemah dan dan tak ada, adalah ruang audince atas ke-ada-an mereka yang kuat. Sungguh sesuatu yang adil dan seimbang. Tapi kenapa harus ada keangkuhan diantara mereka? Bukankah mereka bisa dipandang ‘ada’ karena ada yang ‘tak ada’ (dalam hal ini adalah ‘ada’ sebagai materil ) coba seandainya saja mereka sama-rata dengan ‘ada’, apa yang terjadi…?

Aku kembali berfikir bahwa keangkuhan adalah bagian dari jiwa yang membutuhkan pengakuan, dan sudah menjadi suatu rencana dari kodrat Illahi serta menjadi ruang yang dinamakan keselarasan alam. Buat apa sosok iblis tercipta dan buat apa pula sang malaikat dibangkitkan…? bila kita sadar keduanya adalah bagian dari hitam dan putihnya jalan kehidupan untuk menuju satu ultim yang abadi diantara surga atau neraka.

Kita tak bisa memilah mana yang hitam dan mana yang putih serta kita tak akan pernah tahu mana jalan yang akan menjadi benar, karena kita tahu bahwa segala hitam dan segala putih telah tertutupi oleh sebuah kedok yang bernama -topeng- .

Dan biarkanlah satu…
Nuranimu…
Jangan pernah kau tutup…
Karena hanya dia…
Yang akan menuntunmu…
Untuk benar…
Dan dekat dengan Tuhanmu…

20 – sept – 08,
Reynur rachmat malik
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
;