Sore itu...
selasa, kurang lebih pukul 04 PM, ngablo diatas trotoar jalan sekitar Mampang prapatan. Tau kenapa nih ati tergelitik banget buat ngunjungin lokasi kebakaran yang terjadi beberapa minggu lalu.
Melenggang santai layaknya anak rasta sedang menikmati pemandangan kota, waktu itu emang lagi suntuk banget di kosan sendirian. Pulang kuliah bengong aja udah kayak orang bego, pikir gue akhirnya dari pada kesambet mending cabut dah cari angin.
Akhirnya tiba juga di area kejadian, tepat banget di depan mata gue. Beberapa tenda dan posko tampak berderet acak sebagai tempat penampungan sementara para korban. Sebagian diantaranya ada beberapa posko bantuan dari para relawan. Tempat ini dulunya adalah kawasan para pemulung atau yang biasa orang sebut sebagai lapak. Sebuah lahan tempat dimana mereka berteduh dan melepas lelah kini telah ludes dimakan api.
Ada hal yang menggelitik perhatian, yaitu sekitar kurang lebih 50 meter di depan nampak dua bocah kecil berusia sekitar kurang lebih 9-10 tahun terlihat lagi asik baca buku. Hmm lucu banget sih nih bocah, samperin ahhh… kata gue dalam hati sambil berjalan kearah mereka.
“hey, dek. Lagi pada apa nih kok serius banget kayaknya?” sapa gue yang kayaknya kurang mendapat respon dari mereka.
“boleh gak kakak duduk disamping kalian?” kata gue sambil mencoba ingin tahu buku yang mereka baca. Sepertinya mereka mulai menyadari kehadiran gue kemudian dia senyum lucu banget.
“lagi baca buku apa? Tanya gue penasaran.
“nih kak, lagi liat-liat gambarnya aja bagus yak.” Jawabnya sambil nunjukin ke gue sebuah majalah usang dan yang mereka tunjukin adalah sebuah gambar iklan produk kartu seluler.
“iyah, bagus banget. Kamu dapat dari mana buku itu?”
“dapet dari nemu kak” jawabnya singkat.
“kalian suka baca ya?”
“hu’um…” jawab mereka sambil mengangguk kearah gue.
“kakak bisa baca gak?” katanya
“bisa, emang kenapa?”
“ajarin saya dong, kak.”
“ajarin apa?”
“ajarin saya biar bisa baca”
“lho emang kalian belum bisa baca tho?”
“belum” jawab mereka sambil menggelengkan kepala.
“kalian udah kelas berapa emang sekarang?”
“kita gak sekolah, kak. Kata emak nanti aja kalo udah punya duit banyak baru sekolah. Padahal temen-temen saya udah pada sekolah. Saya pengen bisa baca kak.” Jawabnya polos. Bikin gue jadi prihatin.
“emak kamu dimana sekarang?” kata gue
“tuh..” katanya sambil menunjuk salah seorang wanita separuh baya di dalam tenda tampak pucat dengan busana yang lusuh dan tak terawatt, sambil sesekali seperti tengah tersenggal batuk.
“bapak kamu?”
“bapak udah gak ada. Dia meninggal dan sejak saat itu emak yang nyari duit. Saya kasihan sama emak, kak. Dia sering sakit-sakitan.” Katanya sambil menunduk sedih.
Terharu gue denger penuturan bocah ini. gue beringsut ke tengah-tengah mereka kemudian merangkul keduanya.
“adik yang baik, kalau kalian bener pengen sekolah, kakak bisa bantu kok jangan sedih yah. Tapi kalian harus janji sama kakak, belajar yang rajin dan gak boleh nakal yah. Gimana setuju?” kata gue menghibur.
“hahhh, kakak serius?!” jawab mereka serempak seperti gak percaya ama ucapan gue.
“iyah, kakak serius kok” jawab gue sambil tersenyum kearah mereka. Tampak sekali ekspresi kebahagian dari wajah-wajah tanpa dosa itu. Semakin bikin gue gak tahan buat nahan air mata haru yang dari tadi gue tahan-tahan. Langsung aja gue peluk erat mereka penuh kasih sayang layaknya adik kandung gue sendiri.
“ya sudah, sekarang kalian siapin diri yah. Besok kakak kesini lagi buat jemput sekaligus ijin sama emak kalian”
“janji ya, kak.” Kata mereka penuh semangat.
“iyah, kakak janji” kata gue sembari berlalu meninggalkan mereka dan saat gue noleh, kedua anak itu tampak seperti sedang menaruh harapan besar buat gue melalui tatapan polosnya.
Sepanjang jalan gak habis mengucap rasa syukur buat Tuhan, senja ini ada pelajaran penting dariNYA. Sebuah pelajaran tentang strata kehidupan yang tersusun sedemikian rupa untuk saling berbagi kepada sesama.
Kebetulan gue punya rekan yang memang mempunyai wadah untuk menampung anak-anak kurang mampu untuk kemudian membantu mereka melanjutkan sekolah. Rencananya nanti mereka mau gue titipin ke dia. Seandainya aja gue orang kaya, udah pasti gue sendiri yang bakal biayain mereka sekolah setingi-tingginya, sayangnya keadaan gue pun masih ala kadarnya jadi yah apa boleh buat….
Malam beranjak…
Sepertinya kesan indah ini gak bakal gue lupain sampai kapan pun yang mengharukan dan memberikan inspirasi serta semangat tersendiri buat gue. Ada kisah hari ini tentang setitik harapan dua insan yang memendam mimpi dan cita setinggi langit. Masa gue kalah ama mereka.hahaha... semangaaaaaaaaaaaatttt... ^_^
Reynur Rachmat Malik
Oktober 2012
