Tuesday, May 4, 2010

Tentang hakikat perbedaan



Tak ada satupun makhluk di dunia ini yang ingin dilahirkan dalam keadaan cacat, menderita, miskin terlantar, ataupun tertindas. Namun, kehendak takdir kadang tak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tuhan maha berkehendak dan Dia punya alasan serta rencana tersendiri akan hal apapun di dunia ini.

Seringkali kita melihat disekitar kita para pengemis, pekerja buruh kasar, pengamen, orang-orang yang menjajakan jasanya secara berkeliling, para karyawan, hingga orang-orang berdasi yang parlente. Apa yang menjadi alasan mereka untuk mengerjakan hal itu?.
Jawabannya hanya satu. Karena uang.
Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan uang sebagai hal yang mengekang kita tapi, kembali kita harus bertanya pada diri kita sendiri, kehidupan seperti apakah saat ini yang tidak memakai jasa 'sang benda bernominal' ini?.

Lantas apa yang memaksa mereka untuk memburu benda berharga tersebut?.
Jawaban pertama dan wajib adalah ketika mereka lapar. Dari situlah berbagai hal pekerjaan bisa menjadi ada. Mulai dari yang terkesan hina, sederhana, sampai yang istimewa. Dan pada akhirnya hanya merupakan perputar balikan benda nyaris dianggap 'dewa' tersebut.

Yang punya potensi lebih dalam dirinya akan mampu untuk mencapai sebuah tingkatan pekerjaan yang eksklusif selama dia mau untuk mengelola potensi tersebut. Namun, bagaimana dengan mereka yang nilai potensinya rendah dan hanya mengandalkan bagian dari kekurangan dirinya sebagai alat pemancing ke'iba'an seseorang?. Merekalah yang kalah dalam pergulatan daya saing kehidupan ini.

Dari segi strata yang berbeda itu tumbuhlah rasa diskriminasi dan keangkuhan disebabkan kepuasan terhadap dirinya yang telah berhasil mengubah keadaan menjadi lebih baik. Tak heran apabila mereka akhirnya mendapat kedudukan sebagai 'high class' dalam kancah sosial ekonomi masyarakat. Dalam artian, mereka mampu melakukan apa saja dari hasil jerih payahnya.

Lalu sisanya, hanya cukup membuat perut mereka kenyang saja sudah merupakan anugerah yang sudah bisa senantiasa mereka syukuri. Maka tak heran apabila sebagian dari kalangan itu adalah orang-orang yang sabar serta ikhlas menjalani hidup ini. Mungkin karena sudah sepenuhnya pasrah dengan apapun yang mereka jalani.

Sedikit gambaran untuk kita bisa berfikir, betapa luas dan pemurahnya sang khalik penguasa alam ini. Tak ada satupun makhluk yang tidak diberi rezeki. Banyak ataupun minimnya sebuah materi tetap saja tak akan kita bawa ke alam persinggahan akhir kita, seandainya dibawa juga toh disana buat apa, bisa-bisa hanya menjadi saksi aib keburukan kita akan harta tersebut.

Hah..., apa sih yang harus kita banggakan dalam hidup ini?.
Semua itu semu.....



Reynur Rachmat Malik
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
;