Thursday, May 6, 2010

Ketika anak merindukan sebuah kehangatan


Seorang bocah pengamen berumur kurang lebih sembilan tahunan itu berkata kepada saya. "Bang, bisa ngga ya gue hidup kayak mereka?" katanya sambil menunjuk segerombolan anak-anak beserta keluarganya sedang menuruni anak tangga keluar dari sebuah kawasan perbelanjaan mewah dibilangan jakarta.

"Mereka akur ya, bang..."

Sontak, terharu saya mendengar kata-kata itu, dan secara reflek sayapun memeluknya dengan cinta dan kehangatan. Serta meyakinkan dia bahwa, tak ada yang tak mungkin di dunia ini selama ada keyakinan dan kekuatan usaha untuk meraihnya.

Anak itu bernama Wulan. Salah satu sosok anak yang seharusnya menikmati masa kanak-kanaknya dengan bergembira bersama sebuah keluarga sebagaimana lazimnya para anak sebayanya. Namun, semua itu hanya merupakan sebuah mimpi baginya. Semenjak kedua orang tuanya bercerai, Wulan harus turut terjun tangan membantu ibunya dengan mengamen di bus-bus kota. Hal yang tak pernah ia sangka sebelumnya untuk menjalani hidup sebagai seorang anak jalanan.

Tak ada keraguan di hatinya dalam mengarungi kehidupan barunya itu, bahkan dia terlihat begitu bergairah dan menikmati keadaan dirinya yang tak karuan. Sedang dalam hatinya Wulan bertekad untuk terus melanjutkan sekolah setinggi-tingginya demi menggapai mimpi menjadi yang terbaik bagi orang tua bangsa dan negaranya. Sebuah keinginan yang dahsyat yang belum tentu dimiliki oleh para anak "jaman" yang selalu saja merengek dan dimanja oleh orang tuanya.

Kedekatannya dengan saya seolah bagai layaknya adik kandung sendiri. Begitu erat, begitu bersahabat, serba polos dan bersahaja. Jalanan memang kejam tapi, jika kita mampu hadir dengan langkah naluri bersahabat, mereka tak ubahnya seperti para peri pembawa berkah di negeri hati, yang senantiasa memberi kesejukan bagi mereka yang datang sebagai penyejuk.

Sosok Wulan hanyalah bagian kecil diantara bagian besar anak-anak indonesia yang terlantar lantaran menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Sulit bagi seorang anak untuk melupakan sebuah peristiwa-peristiwa yang berkesan apalagi menyakitkan yang terjadi dalam ruang lingkup keluarganya.

Seorang anak lebih dari sekedar buah hati. Kehadirannya menuntut sikap orang tua menjadi lebih matang dalam berfikir maupun bertindak lebih dewasa. Sedangkan perilaku KDRT menunjukkan kekurang-matangannya pihak orang tua dalam mengelola sebuah keluarga sehingga muncul idealisme individual yang berujung dengan sikap arogan dan kontroversial. yang mana hal itu merupakan salah satu penyebab timbulnya masalah tersebut.

Jika memang begitu, siapa yang harusnya dipersalahkan dalam kasus ini?
Apakah orang tua itu sendiri?
Ataukah menyalahkan keadaan?
Mungkin para pembaca memiliki opini yang lebih kongkret mengenai hal ini.




Reynur Rachmat Malik
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
;