
Entah sudah berapa kali aku harus kehilangan. Semua telah terjadi begitu saja, begitu cepat dan hilang.
Aku telah kehilangan masa lalu yang indah, dan orang-orang tersayang. Memang, tak satupun didunia ini yang abadi. Namun, ternyata harus terjadi secara beruntun dan berlarut-larut menimpaku.
Tahun berganti, semua berubah. Hidupku semakin melaju dengan ketidakberdayaan. Murung, suram, dan cemburu, hingga dendam. Kini sebuah jiwa hidup lekat dengan semua hal itu. Aku telah menjadi sosok pemberontak dengan sejuta kebencian. Benci akan kepalsuan dan ketidak-adilan manusia. Aku muak dengan semua itu.
Sesaat ambisi ini menggelegak kuat dengan kokohnya idealisme yang tak terkalahkan. Jangan ada yang melarangnya atau kau akan menjadi musuhku. Aku ingin sendiri saja, biarkan aku dengan kaki yang lemah ini menantang dunia tanpa alas. Bisa saja kalah tapi, aku harap tak sekali-kali kau ulurkan tanganmu untukku. Cukuplah aku dengan sisa tenaga ini untuk kembali bangkit. Jikapun mau, aku akan melanjutkan langkah itu. jika tidak, kalianpun tak berhak mencelanya.
Sejenak berdiri, tampak betapa tak berharganya diri ini.
Kenapa kalian memandangku seperti itu???
segeralah tinggalkan saja, dengan kesendirian yang pantas ada pada raga ini. Tolong enyahkan saja tatapan 'iba' itu. Aku tak mau rasa kasihan tumbuh karena nilai nasib si 'lemah' ini..
pergi kalian semua !!!
Jangan terlalu remeh jika melihat, mungkin aku lebih hebat dari yang kalian bayangkan..
diamlah...
fahami saja aku...
bila lelah, pasti terhenti...
dan maut pun merenggut...
Pasar Minggu
Reynur Rachmat Malik
Aku telah kehilangan masa lalu yang indah, dan orang-orang tersayang. Memang, tak satupun didunia ini yang abadi. Namun, ternyata harus terjadi secara beruntun dan berlarut-larut menimpaku.
Tahun berganti, semua berubah. Hidupku semakin melaju dengan ketidakberdayaan. Murung, suram, dan cemburu, hingga dendam. Kini sebuah jiwa hidup lekat dengan semua hal itu. Aku telah menjadi sosok pemberontak dengan sejuta kebencian. Benci akan kepalsuan dan ketidak-adilan manusia. Aku muak dengan semua itu.
Sesaat ambisi ini menggelegak kuat dengan kokohnya idealisme yang tak terkalahkan. Jangan ada yang melarangnya atau kau akan menjadi musuhku. Aku ingin sendiri saja, biarkan aku dengan kaki yang lemah ini menantang dunia tanpa alas. Bisa saja kalah tapi, aku harap tak sekali-kali kau ulurkan tanganmu untukku. Cukuplah aku dengan sisa tenaga ini untuk kembali bangkit. Jikapun mau, aku akan melanjutkan langkah itu. jika tidak, kalianpun tak berhak mencelanya.
Sejenak berdiri, tampak betapa tak berharganya diri ini.
Kenapa kalian memandangku seperti itu???
segeralah tinggalkan saja, dengan kesendirian yang pantas ada pada raga ini. Tolong enyahkan saja tatapan 'iba' itu. Aku tak mau rasa kasihan tumbuh karena nilai nasib si 'lemah' ini..
pergi kalian semua !!!
Jangan terlalu remeh jika melihat, mungkin aku lebih hebat dari yang kalian bayangkan..
diamlah...
fahami saja aku...
bila lelah, pasti terhenti...
dan maut pun merenggut...
Pasar Minggu
Reynur Rachmat Malik
