Wednesday, July 7, 2010

Satpol PP Juga Punya Rasa Iba..

JAKARTA, KOMPAS.com - "Sekarang nyari kerja susah, saya tetap bersyukur, itu sudah risiko saya, setiap pekerjaan pasti ada risikonya," begitu jawab Tanto (26), seorang anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), ketika berbincang dengan Kompas.com di Jakarta, Rabu (7/7/2010).

Menjadi seorang anggota Satpol PP, bukanlah hal yang mudah. Jam kerja Satpol PP tidak jelas, dengan upah yang tidak seberapa. "Dibilang jam kerja ringan, kita nggak ya, karena tiap hari di lapangan. Kalau yang piket bisa 24 jam full, kalau ada kegiatan bisa berlanjut sampai tengah malam," tutur Tanto.

Tanto yang sejak 2003 menjalani profesi sebagai Satpol PP harian lepas, mendapat upah sebatas uang gaji senilai Rp 1 juta per bulannya. "Gaji to', kalau jatah operasi juga dapat," katanya.

Belum lagi, risiko di lapangan yang menurut Tanto, cukup banyak. Sebagai seorang Satpol PP, Tanto sering mendapat cacian dari warga. "Banyak yang nyaci kita, ngatain kita, padahal kita tugas di jalan bukan buat apa-apa, tapi buat warga juga. Kalau kita lewat, dikataian, kita nggak bisa lawan, karena mereka warga," cerita Tanto.

Sebagian besar warga menilai, Satpol PP hanya berperilaku anarkis, membongkar bangunan, dan menertibkan para pedagang dengan kasar. "Padahal sebenarnya nggak gitu, kita juga semua kan rata-rata anak muda, emosi punya, rasa iba kita juga punya," katanya.

Jangan dipikir Satpol PP selalu semena-mena terhadap pedagang, karena seperti yang dituturkan Tanto, dia selalu berkomunikasi secara baik-baik terlebih dahulu kepada para pedagang yang akan ditertibkan. "Kita ngobrol, kita jadiin temen, bilang pelan-pelan, Mas tolong, Nggak langsung kekerasan, kecuali emang dia bener-bener bandel sudah kita peringati," katanya.

Jika dengan komunikasi tidak berhasil, maka Tanto biasanya akan mengancam pedagang tersebut terlebih dahulu. Jika tidak berhasil juga, maka mau tidak mau, saat penertiban, barang dagangan pedagang tersebut disita.

Tanto yang datang dari Jawa Tengah ke Jakarta pada 1999 juga pernah mengalami bagaimana rasanya menjadi seorang pedagang asongan. Sebelum menggantikan ayahnya sebagai Satpol PP di Kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, Tanto pernah menjadi penjual koran dan asongan. "Kita juga pernah merasa seperti mereka (pedagang asongan), pernah," imbuhnya.

Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
;