
Hari-hari yang dia lalui hanyalah seperti roda yang berputar tanpa henti. Begitu seterusnya hingga tak terasa semua menjadi tua dan mati.
Namun jika berputarnya naik tetap sama turun sama, akankah itu merupakan sebuah keadilan alam.
Adalah udin (15) yang keseharian hidupnya hanya mengandalkan kotak berisi peralatan semir sepatu. Dia berjalan sepanjang stasiun sembari menawarkan jasanya untuk menyemir, hanya itu yang setiap hari ia lakukan. Tak ada sedikitpun tampak diraut wajahnya sebuah keluhan ataupun penyesalan. Semua ia jalani dengan ikhlas dan berikhtiar untuk tetap optimis mengarungi hidup yang kejam ini.
Mimpinya hanya satu, yaitu melanjutkan sekolah dan menuntut ilmu setinggi-tingginya hingga kemudian meraih mimpinya untuk menjadi seorang insinyur. Sisa dari penghasilannya ia kumpulkan sedikit demi sedikit walaupun terkadang ia rela untuk tak makan hanya untuk menambah tabungannya.
Dia pernah sekolah, tapi itu dulu. Hal yang tak pernah ia duga harus memaksa ia menghentikan semua itu, ia harus kehilangan orang yang selama ini membesarkannya, mendidiknya, dan merawatnya. Kedua orang tua udin telah menerima panggilan sang penguasa umur sebelum ia menyelesaikan pendidikannya.
Tanpa harus berlarut-larut dalam sebuah kesedihan, iapun mulai bergerak melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
Dan kotak itu selalu menemaninya kemanapun, saat sedih atau apapun yang tengah terjadi dengannya, kotak itu seolah-olah adalah saksi bisu akan besarnya sebuah sugesti megah yang tumbuh direlung hati yang tertindas untuk maju dan terus maju. Dengan satu kata untuk akhir yaitu, sukses.
Reynur Rachmat Malik
