Saturday, August 14, 2010

Ramadhan dipinggir kota

Memasuki bulan ramadhan ini hiruk-pikuk kota mulai tampak begitu kentara dihadapan kita. Berbagai konsep dan tema-tema religius bertebar di setiap sudut-sudut keramaian. Dan dunia telah mulai menunjukkan 'kedermawanannya' terhadap kaum-kaum tak mampu.

Berbondong-bondong manusia mengulurkan tangannya untuk mereka, berduyun-duyun pula pihak-pihak yang memanfaatkan kesempatan merauk rejeki 'dadakan' itu sebagai keuntungan yang merugikan realita sebenarnya.

Adalah jamil 45 tahun (bukan nama sebenarnya)
mengatakan bahwa, "bulan puasa merupakan lahan kami mencari uang tambahan. Yang mana pekerjaan tetap saya kurang bisa mencukupi kebutuhan, terutama kebutuhan anak-anak kami. Tiap hari anak-anak kami merengek-rengek meminta baju baru untuk lebaran dan sebagainya, memaksa kami untuk ikut terjun kejalanan dan mengemis"

Hal yang sama seringkali kita lihat di sepanjang jalanan ibu kota, yaitu berderetannya para pengemis 'dadakan' dengan berbagai style dan gaya yang brmacam-macam. Ada yang sengaja menyewa dan menyewakan berbagai keperluan mengemis hingga penyewaan anak-anak dibawah umur sebagai pengundang simpati.

Wajar saja jika wajah bangsa kita kini punya image dan title sebagai 'negeri para pengemis'
sangat disayangkan...
Bagaimana memulihkan citra negatif bangsa ini?

Ada baiknya apabila anda juga turut menyumbangkan aspirasi maupun ide positif dalam tulisan ini...






Reynur Rachmat Malik
Comments
0 Comments

0 comments:

Post a Comment

 
;