Dia berjalan dalam sebuah relung duri, tertatih dengan tetesan keringat yang telah berbuih. Disela kerongkongan yang kerontang lidah kelu mengeluh tentang betapa kejamnya dunia ini.
Perlahan tapak letih itu terus menelusuri lajur yang kusam, tanpa menoleh untuk sebuah jawaban apa dari akhir raga ini. Dan selintas dalam kekosongan itu seonggok cinta menoreh hatinya. Dia memupuknya dengan kasih yang ruhmi.
Seiring dunia yang kian berputar, realita ini telah mencacinya menjadi hina tiada ampun. Peluh dari kelopak yang suci itu terus menetes deras seolah berbicara, betapa tiada mengertinya mereka.
Kepingan duka dari sisa hati yang utuh semakin tergigit.
Dimanakah jiwa yang tegar itu....
Ruh yang terus senantiasa berontak melepaskan diri dari belenggu ketakutan.
Terbaring ia dibawah atap kekalutan...
Tengadah menanti basah, dengan embun keikhlasan dia menatap
"hentikan..., hentikan..., hentikan sejenak saja...
aku lelah..."
Sayup terngiang bisikan hidup menyentuh sugesti...
namun, terlambat....
Tubuh itu telah kaku tak bergeming...
Dan akhir dari kekacauan itu hanyalah gelisah...
Reynur Rachmat Malik
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
