Menghitung sepi diantara penatnya penantian, sepertinya menjadi lumrah di kidung putaran masa ini. Seret-menyeret mencari celah untuk sebuah titik hasrat memintal mimpi, dari yang carut terselubung ilusi hingga terwujud hamparan baru yang terkuak tampak.
Angan senantiasa berombak menggerus kemustahilan, bahkan lebih dari itu. Dan untuk membuatnya nyata terkadang harus bercecer darah dan peluh, hingga hembusan terakhir semua diluar batas diri. Bukan nihil tapi 'ada' namun, tidak sempurna.
Mungkin langkah untuk menjadi 'paling' diantara yang 'ada' ini bukanlah hal yang kusut. Hanya bakat dari kodrat pembentuk yang mengawali semua itu, dari sinilah metode alam bawah sadar mengkonfirmasi proses sugesti untuk mengembangkan diri menjadi lebih dan lebih.
Roda nafsu mengendus tamak, merengkuh sombong, dan memeluk popularitas -Hal yang sangat manusiawi tentunya- Dan semesta telah mengakui betapa angkuhnya mereka menempati kehidupan ini. Beriringan dengan bangga serta riya brdansa di lembah suci, merusak adat transendensi tentang kebenaran adanya Tuhan.
Para pemuja logika selalu tampak dengan egosentris mereka dan menyelimuti ke'abstrak'an dengan ber'sarung' kebodohan serta menentang segala ketidak-mungkinan dengan simbol 'ada dari yang nyata bukan dari yang tidak nyata.' Dan masa bodoh dengan apa yang dinamakan dengan ruh dan rohani, baginya semua hanya rekayasa para pujangga.
Sistem yang semakin maju dengan tingkat dedikasi dan intelejensi yang kuat, menimbulkan keselarasan dan keserasian alam menjadi terombang-ambing dendam serta geram dengan penindasan yang kian membabi buta.
Hanya saja, jika kembali sunyi mereka memulai lagi. Memintal mimpi, lalu memacu ambisi kembali...
Reynur Rachmat Malik
