Tempurung ini begitu luas, meremukkan tulang insan dalam kemalangan. Kemana saja jiwa terlempar hanya semakin menggelisahkan, cuma sesekali terdengar lirih dialognya bersama Tuhan. Dalam heningnya dia ternganga bisu menahan perih.
Lingkaran itu mengikatnya erat, hati-hati seperti melangkah dalam putaran gaib yang abstrak.
Getaran segala puing kemelut menggemuruh nyaris membunuh akal sehat, dan seketika Tuhan tak pernah bosan mengulurkan tangan agungNYA meraih serta menuntun kearah kebijaksanaan yang putih.
Gumpalan hati yang menyimpan kemenangan hanya terselubung rapi dan tak nampak. Sulit sekali menjawab segala pertanyaan yang telah menjadi garis merah disetiap detak yang hidup. Hanya saja jika telah tiba semua akan terlihat dengan rona yang bervariatif.
Mereka mulai perlahan menjauh dari dunia naturalisme menuju era pembodohan yang telah menjadi dewa dengan modernismenya.
Dan dia tersisih , hilang dari keluputan...
Pulihkan sejenak dari kebisingan yang angkuh, berputar disekitar ruang tempurung yang luas dan meretakkan tulang.
Terhenyak sesak tak bergeming...
Dan teriak, tentang dunia bergaris yang hendak terhapus dari aslinya...
Pasar Minggu
Reynur Rachmat Malik
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
