Indahnya sebuah kesederhanaan dibawah atap asa dan harapan yang terbenam. Melangkah dengan tapak membengkak penuh gairah dan inspirasi, sesekali terseok, terjatuh, namun tak terngiang. Sejenak berkedip gelak ceriapun mencuat. Kebersamaan yang tanpa kediaman tinggal pasti, bukan alasan untuk menyerah.
Dua sahabat, Bimo dan Ario. Merupakan salah satu bagian dari luasnya dunia dengan tingkatannya. Mereka adalah anak jalanan yang penuh semangat untuk bisa menggapai mimpi disela kerasnya hidup. Dua sahabat yang begitu akur, dan kompak seolah-olah tak akan pernah ada yang bisa memisahkan ini tinggal di berbagai tempat alias berpindah-pindah secara tak pasti.
Sudah menjadi suatu kebiasaan hidup dijalanan, bahwa adakalanya dalam sehari makan berkali-kali hingga mau muntah sekalipun. Namun tak jarang pula untuk mendapatkan seganjal nasi saja begitu sulit dan butuh perjuangan yang terkadang begitu menyakitkan. Dan hal itu selalu mereka rasakan bersama dengan keceriaan.
Waktu beralih, akhirnya mereka dapat mengumpulkan uang. Yang memang telah mereka sepakati bersama bahwa, jika nanti uang telah terkumpul mereka akan mengontrak. Yah, sekedar untuk tidur ataupun menaruh barang itu saja sudah cukup, tak perlu yang muluk-muluk. Dan mulai hari ini mereka telah memulai sebuah perjuangan awal.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan..., telah terjalani dengan lancar. Memasuki bulan keempat, Bimo mulai terlihat kurus dan sakit-sakitan. Entah karena beban hidup yang sangat berat, atau memang sudah terlalu lelahnya raga yang tak terurus itu meniti keadaan yang tak kunjung berubah. Hingga kini Ariolah yang harus bekerja keras untuk makan sehari-hari, membayar uang kontrakan, dan biaya berobat Bimo sahabatnya yang selama ini menemani hidupnya.
Pagi itu seperti biasa Ario telah bersiap untuk berangkat mengamen. Sejenak dia tertegun dan memandang sahabatnya yang terbaring lemah tak berdaya itu. Tanpa terasa air matanya mulai terjatuh. Terbersit rasa iba dan tak tega untuk meninggalkannya namun, banyaknya kebutuhan dan keadaanlah yang pada akhirnya harus memaksa langkah kakinya untuk pergi.
"Bim, ini gue bawain martabak kesukaan lo." Bisik ario sambil meletakkan bungkusan plastik yang memang berisi martabak dan beberapa butir obat yang dia beli sesudahnya mengamen tadi.
"Bim, bangun dong..."
Sesaat, tubuh lemah itu hanya bisa menggerakkan jemarinya sambil berusaha mencari sahabatnya dengan mata yang layu.
"Sob, jangan tinggalin gue sendiri ya. gue takut banget nih..."
"Maaf sob, tadi gue terpaksa harus keluar sebentar nih gue bawain martabak." Sejenak Ario merasakan keanehan yang tak seperti biasanya.
Tubuh ringkih itu kini menatap penuh arti ke arah Ario yang tertegun kebingungan.
"Bim, lo gue bawa kerumah sakit aja ya..." kata Ario sambil hendak bergegas keluar, tapi lengan Ario keburu dipegang oleh Bimo.
"Sob, lo inget nggak. Waktu kita dikejar-kejar kamtib dan lo gue liat malah bengong kebingungan. Padahal lo nyaris aja kena tangkep ama mereka...?"
"Iya, kenapa?"
"Saat itulah gue merasakan sebuah petualangan yang sangat seru sepanjang hidup gue. Dan dari situlah gue mengerti kalau hidup kita di jalanan itu selalu saja diusik dan tak pernah damai. Padahal kita tak pernah mencampuri urusan mereka."
"Yah, begitulah"
"Satu hal pesen gue buat lo, kawan..."
"Ya...???"
"Jangan selamanya lo jadikan jalanan sebagai gantungan hidup, wujudkan cita-cita yang dulu selalu kita jadikan bahan cerita indah dikolong fly over."
"Iya, sob. dan suatu saat kita pasti bisa mewujudkannya..."
Bimo hanya tersenyum sambil lirih berkata.
"Wujudkan, sob. Sendiri..."
Sesaat setelah kata itu terucap Bimo menghembuskan nafasnya yang terakhir. Betapa terpukulnya Ario setelah tahu bahwa bahwa beberapa menit yang lalu adalah dialog terakhir antara dia dan sahabatnya.
Orang yang selama ini peduli dan setia terhadapnya, yang selama ini mengajarkan arti hidup yang sebenarnya, dan yang telah menyalakan gairah abadi didalam jiwa dan langkahnya selama ini.
Rumah kontrakan kecil itu kini ramai dengan orang-orang yang turut berbela sungkawa. Memang di mata masyarakat setempat, kedua sahabat tersebut sudah sangat akrab dan terkenal apa-adanya serta ringan tangan seandainya ada tetangga yang membutuhkan bantuan. Jadi tak heran apabila banyak juga pelawat yang mau menghadiri serta turut berpartisipasi secara ikhlas tanpa paksaan.
Selesai pemakaman, tinggallah Bimo sendiri menatap gundukan tanah basah dihadapannya.
"Selamat jalan, sobat. gue janji suatu saat nanti mimpi itu akan gue wujudkan..., istirahatlah dengan tenang, kawanku"
Dengan langkah gontai Ario meninggalkan area pekuburan. Tak ada yang harus disesali, semua telah terjadi, ada pertemuan pasti ada perpisahan dan kini mereka harus berpisah untuk selamanya. Ario bertekad mulai detik ini dia tak akan mengamen lagi.
"Aku harus berubahhhhhhhhh...........!!!!"
Dan sepoi angin bersama nyanyian burung gereja telah menjadi saksi akan sebuah tekad membara dari seorang insan menuju cita-cita yang indah.
03-Mei-2010
Reynur Rachmat Malik
